Home > Sastra > Puisi Pertemuan

Puisi Pertemuan

Salam!
Puisi ini saya tuliskan setelah menghadiri acara reuni kawan-kawan organisasi kampus bulan Juli tahun 2007.

Pertemuan kemarin, 14 Juli 2007
Menciptakan suasana yang mengesankan
Sumringah terbelalak lebar
Canda riang ditengah hamparan hijau rerumputan
sebelah utara gedung yang belum lama berdiri

Rasa-rasanya tempat itu jarang dikunjungi
Bisa sebulan sekali, sesemester sekali, atau bahkan setahun sekali

Tapi, tempat itu kini telah menjadi saksi
puluhan jiwa yang pernah bersatu dalam suatu tempat
…kampus…
bisa jadi kebetulan, apalagi waktunya berbarengan
dulu…. empat tahun lalu
dua ribu tiga

Kini, wajah dan jiwa kami telah berubah
aktifitas dan lingkungan kami yang membuatnya berubah
teman-teman yang selalu menciptakan titik nadir perubahan
dalam sebuah pertemuan suci dan penuh keikhlasan

Kini, kami bisa mengenang masa-masa itu
dimana derai keringat dan air mata pernah tumpah dalam jalan ini
emosi disertai luapan teriakan ikhwan..akhwat yang memancing kemarahan
humor dan canda usil bercampur baur dalam suasana dinginnya pagi dan hangatnya sore

Dan kini, sebuah pertemuan itu ketinggalan kereta
kami semua sudah banyak yang turun dari kereta
ada anggapan, perjalanan ini telah sampai distasiun terakhir
Aku..
sekedar menitipkan lambaian tangan dan menciptakan momen perpisahan
dengan alamat dan no telepon
siapa tau suatu saat ada sebuah kesadaran
bahwa perjalanan ini masih sangat panjang
dan stasiun itu baru sebatas angan-angan

tetapi,
terima kasih.. syukron telah menghadirkan kenangan
dalam jalinan pertemuan yang penuh dengan kesan
pantas kalo lantunan doa selalu terucapkan

“Allahumma innaka ta’lamu annaha dzihil qulub
Qodistama aj ‘ala mahabbatik.. ..”

Dengan sisipan harapan
Sebuah pertemuan [kembali] di surga nanti

Dilanjutkan dengan puisi selanjutnya,

Perjalanan kehidupan ibarat permainan ini
Perjuangan menempuh jalan yang melingkar atau bisa jadi bersudut
Semua itu, tidak lain hanya sekedar putaran
dalam lika-liku kehidupan menuju suatu kejayaan
Kita pernah bertemu atau bahkan bertegur sapa
tapi bisa jadi juga hanya tau nama tanpa banyak bicara
Bisa juga kita cuma sekedar melihat tikungan sejarah pada tempat
dan waktu yang sama
Ada yang berbeda didepan sana
Dan kita semacam
sedang sedikit membuat apresiasi
Atau (paling tidak) semacam antisipasi untuk tetap dalam jalan ini
Tidak lebih dari itu

Wa kaana haqqan ‘alaihi nashrul mu’miniin

Bandung, 14 Juli 2007

JabatErat!

Categories: Sastra Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: