Home > Daily Life > Apa yang salah dengan Ayah?

Apa yang salah dengan Ayah?

Salam!
Hari ini saya membaca artikel dari salah satu milis yang saya ikuti. Cerita ini menurut saya sangat inspiratif, apalagi saya yang beberapa bulan lagi akan menjadi ayah, amin🙂


Dr. Arun Gandhi cucu dari mendiang Mahatma Gandhi pernah menceritakan
satu kisah dalam hidupnya yang sungguh mengesankan, sebagai berikut.

Kala itu usia saya kira-kira masih 16 tahun dan saya tinggal bersama
kedua orang tua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya
Mahatma Gandhi. Kami tinggal disebuah perkebunan tebu kira-kira 18
mil jauhnya dari kota Durban, Afrika Selatan. Rumah kami jauh di
pelosok desa terpencil sehingga hampir tidak memiliki tetangga.

Oleh karena itu saya dan kedua saudara perempuan saya sangat senang
sekali bila ada kesempatan untuk bisa pergi ke pusat kota, untuk
sekedar mengunjungi rekan atau terkadang menonton film dibioskop.

Pada suatu hari kebetulan ayah meminta saya menemani beliau ke kota
untuk menghadiri suatu konferensi selama seharian penuh. Bukan main
girangnya saya saat itu.

Karena ibu tahu kami hendak ke kota maka ibu menitipkan daftar panjang
belajaan yang ia butuhkan, disamping itu ayah juga memberikan beberapa
tugas kepada saya, termasuk salah satunya adalah memperbaiki mobil
dibengkel.

Pagi itu setelah kami tiba ditempat konferensi; ayah berkata kepada
saya; ” Arun; jemput ayah disini ya, nanti jam 5 sore….dan kita akan
pulang bersama-sama”. Baik ayah, saya akan berada disini tepat jam 5
sore. Jawab saya dengan penuh keyakinan.

Setelah itu saya segera meluncur untuk menyelesaikan tugas yang
dititipkan ayah dan ibu kepada saya satu persatu. Sampai akhirnya
hanya tinggal satu pekerjaan yang tersisa yakni menunggu mobil selesai
dari bengkel.

Sambil menunggu mobil diperbaiki tidak ada salahnya aku pikir untuk
mengisi waktu senggangku dengan pergi ke bioskop menonton sebuah film.
Saking asyiknya nonton ternyata saat saya melihat jam; waktu sudah
menunjukkan pukul 17.30, sementara saya janji menjemput ayah pukul
17.00.

Segera saja saya melompat dan buru-buru menuju bengkel untuk mengambil
mobil, dan segera menjemput ayah yang sudah hampir satu jam menunggu.
Saat saya tiba sudah hampir pukul 18.00 sore.

Dengan gelisah ayah bertanya pada saya; Arun! kenapa kamu terlambat
menjemput ayah..?

Saat itu saya merasa bersalah dan sangat malu untuk mengakui bahwa
saya tadi keasyikan nonton film, sehingga saya terpaksa berbohong
dengan mengatakan; ” Maaf Ayah” ”Tadi mobilnya belum selesai di
perbaiki sehingga Arun harus menunggu.”

Ternyata tanpa sepengathuan saya , ayah sudah terlebih dahulu menelpon
bengkel mobil tersebut, sehingga ayah tahu jika saya berbohong; Lalu
wajah ayah tertunduk sedih; sambil menatap saya ayah berkata; ”Arun
sepertinya ada sesuatu yang salah dengan ayah dalam mendidik dan
membesarkan kamu”; ”sehingga kamu tidak punya keberanian untuk
berbicara jujur kepada ayah”.

Untuk menghukum kesalahan ayah ini, biarlah ayah pulang dengan
berjalan kaki; sambil merenungkan dimana letak kesalahannya.

Lalu dengan tetap masih berpakaian lengkap ayah mulai berjalan kaki
menuju jalan pulang kerumah.

Padahal hari sudah mulai gelap dan jalanan semakin tidak rata. Saya
tidak sampai hati meninggalkan ayah sendirian seperti itu; meskipun
ayah telah ditawari naik, beliau tetap berkeras untuk terus berjalan
kaki, akhirnya saya mengendarai mobil pelan-pelan dibelakang beliau,
dan tak terasa air mata saya menitik melihat penderiataan yang dialami
beliau hanya karena kebohongan bodoh yang telah saya lakukan. Sungguh
saya begitu menyesali perbuatan saya
tersebut.

Sejak saat itu seumur hidup, saya selalu berkata jujur pada siapapun.

Sering sekali saya mengenang kejadian itu dan merasa begitu terkesan;
seandainya saja saat itu ayah menghukum saya sebagai mana pada umumnya
orang tua menghukum anaknya yang berbuat salah; kemungkinan saya akan
menderita atas hukuman itu; dan mungkin hanya sedikit saja menyadari
kesalahan saya.

Tapi dengan satu tindakan mengevaluasi diri yang dilakukan ayah;
meskipun tanpa kekerasan justru telah memiliki kekuatan yang luar
biasa untuk bisa mengubah diri saya sepenuhnya.

Saya selalu mengingat kejadian itu seolah-olah seperti baru terjadi kemarin.

Para orang tua……… ..

Ayah Dr Arun Gandi tersebut sungguh seorang ayah dan guru yang luar
biasa dalam mendidik anaknya. Sebuah kisah emas untuk para orang tua
dalam mendidik dan membesarkan anak-anak.

Kisah ini begitu menginspirasi saya secara pribadi; untuk selalu
mengevaluasi diri manakala anak-anak tercinta saya mulai menunjukkan
prilaku yang kurang terpuji ya, saya membiasakan diri untuk selalu
bertanya :

“Apa yang salah dari saya mengapa anak saya bisa seperti itu …?”

Jabaterat!

  1. lindya
    June 5, 2010 at 5:16 am

    cerita yang bagus…:)apakah berkata jujur ada batasannya? & gmn dengan kebohongan putih????terkadang kita sering rancu untuk penerapan “bohong putih’itu

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: