Home > Daily Life > Bangkit Menuju Kesuksesan

Bangkit Menuju Kesuksesan

Salam!
Hai blogger, cerita kali ini saya dapatkan di milis yang saya ikuti. Subjek dalam cerita ini adalah seorang pendaki gunung tertinggi. Berusaha mendaki, gagal dan kehilangan orang yang dicintai, depresi karena cemoohan, bangkit dari tekanan dan sukses mencapai impian.


Ketika anda mengalami kegagalan. Ketika anda kehilangan sosok yang begitu anda cintai. Bisa jadi itu akan melunturkan semangat anda. Bahkan Trauma. Seperti Peter Garret dalam film Vertical Limit. Dimana dia begitu trauma. Karena bayangan kegagalan menyelamatkan ayahnya. Karena pada akhirnya dia harus memotong tali pengaman ayahnya dalam pendakian tebing, demi keselamatan dia dan adiknya. Trauma yang luar biasa sehingga membuat Peter seolah kapok dengan dunia pendakian dan mengalihkan diri menjadi wartawan.

Dari begitu banyak orang yang Trauma karena kegagalan atau kehilangan orang yang tercinta ada pula yang akhirnya bangkit dari Traumanya dan menjadi orang yang sukses hingga namanya terkenal di seluruh dunia. Reinhold Messner adalah salah seorang diantaranya,

Di tahun 1970, Messner bersaudara (Reinhold dan Gunther) berniat menaklukkan Nanga Parbat, sebuah ”puncak terlarang” dengan ketinggian 8.125 m di atas permukaan laut di rantai Karakoram di ujung barat Himalaya. Puncak ini juga dikenal sebagai the Killer Mountain (Gunung Pembunuh).

Tapi sayangnya dua bersaudara ini tak pernah mencapai puncak Nanga Parbat. Mereka berdua menyerah dan berada di batas kelelahan, kehabisan bekal makanan dan air. Hingga akhirnya di ketinggian itu, Gunther, sang adik pun terkena halusinasi dan menghilang tersapu longsoran salju yang besar. Dan sang kakak, Reinhold harus pulang ke Austria dengan kegagalan dan penuh duka.

Kejadian tersebut sungguh mengguncang Reinhold. Betapa tidak, selain harus kehilangan adiknya serta kehilangan tujuh jari kaki dan beberapa jari tangan akibat frostbite selama pendakian tersebut anggota tubuhnya, Ayahnya dan semua anggota keluarga menyalahkan dirinya atas hilangnya sang adik.

Namun itu belum seberapa, karena Dua pendaki lainnya, Max von Kienlin dan Hans Saler yang ambil bagian pada pendakian itu malah memberi kesaksian dalam buku yang diterbitkan di Jerman bahwa Reinhold telah menyuruh adiknya menuruni sisi Rupal, bagian curam yang berbahaya di gunung itu. Padahal kedua kakak beradik itu, kata mereka, hampir mati saat mendakinya. Reinhold, kata mereka juga, dengan teganya meninggalkan sang adik yang dalam keadaan sakit itu dengan memaksanya turun. Menurut Von Kienlin dan Saler, Reinhold sendiri memilih turun melewati rute berbeda yang baru di sisi barat Diamar karena ia ingin menjadi orang pertama yang turun lewat jalur ini. ”Akibatnya,” tulis mereka, ”Messner mengorbankan adiknya untuk ambisinya sendiri.”

Betapa semakin terguncang Reinhold kala itu, dia mengalami kegagalan, kehilangan adik yang dicintai juga dihakimi oleh orang-orang disekitarnya. Akhirnya kejadian tersebut, membuat Reinhold menutup dirinya selama setahun.. Hingga pada akhirnya diapun kembali tersadar, bahwa dia bisa melakukan lebih dari hanya sekedar menyesal. Reinhold pun kembali bangkit. Dia kembali ke dunia pendakian. Dia melawan semua trauma. Dia acuhkan semua suara suara sumbang di sekitarnya. HIngga akhirnya di tahun 1973, Reinhold kembali ke Nanga Parbat. Walau dalam pendakian ini, Reinhold masih belum berhasil mencapai puncak. Namun dia telah berhasil menaklukkan dirinya sendiri atas kesalahan dan kegagalan masa lalu.

Upayanya menjadi luar biasa terus ia asah, Pada 8 Agustus 1975, Messner dan Habeler memulai pendakian. Keduanya tak bawa tali, tabung oksigen dan hanya berbekal alat panjat pribadi. Hari kedua, mereka tiba di bawah dinding es curam setinggi 1.000 meter. Kemah berikut berdiri setelah lewat dinding tersebut. Reinhold Messner dan Habeler pun melakukan pemanjatan kilat.

Usai pemanjatan gila-gilaan itu, keduanya terserang rasa lelah yang hebat. Saking capeknya, memasang tenda pun terasa sangat sulit. Apalagi acara makan tak ada dalam agenda pendakian. Hari berikutnya, mereka meninggalkan perlatan dalam tenda. Penyerangan puncak (summit attack) dilakukan dengan hanya membawa kapak es (ice axe), crampoons, kamera dan peralatan medis.

Pada hari yang sama, kedua pendaki handal ini meraih puncak. Peter Habeler tiba lebih dulu. Messner menyusul beberapa menit kemudian. Seperti lazimnya pendaki, Messner mengabadikan Habeler saat berada di puncak. Asyiknya, cuaca amat cerah dan mereka pun berpelukan. Wow!

Hingga akhirnya Sejarah itu terjadi pada Mei 1978. Messner, menebus kegagalan yang pernah dialami dengan adiknya. Messner dan Habeler mendaki puncak lewat South Col. Mereka mendaki tanpa membawa tenda dan tentu saja, tanpa tabung oksigen. Tantangan alam yang amat berat, mampu dilewati.Selain latihan yang serius, keduanya punya ikatan yang kuat sebagai tim pendaki. Tanpa berbicara, mereka terus mendaki menuju puncak. Kadang-kadang, mereka saling berpandangan, melihat badan dan pikiran masing-masing.

Sebelumnya, kawan-kawannya di Austria mencelanya. Karena itu adalah perjalanan yang sulit. Bahkan ayahnya mengatakan dia gila. Juga para ilmuwan saat itu memperkirakan bahwa pada ketinggian diatas 8000m diatas laut, tanpa oksigen tambahan manusia akan kehilangan control fikirannya. Bahkan Habeler, kawan pendakiannya sempat khawatir dengan serangan oksigen tipis di ketinggian yang dapat berakibat kerusakan otak dan kehilangan memori. Namun, dia dan Messner akhirnya mampu mencapai puncak. Habeler mengaku sangat letih secara fisik, namun hasrat memuncak yang begitu tinggi mampu mengalahkan segala. Karena takut terkena kerusakan otak, Habeler turun ke South Col hanya dalam waktu satu jam saja. Ia meluncur dengan kapak esnya.

Kisah petualangan pria kelahiran desa Villnos, Italia Selatan 17 September 1944 tak berhenti sampai di situ. Pada tahun yang sama, Messner meraih puncak Nanga Parbat (8.125 meter/26.660 feet) tanpa bekal tabung oksigen. Bagi para pelaku pendakian gunung, prestasi itu seolah tenggelam. Mereka justru penasaran dengan pendakian solo Messner dalam usaha mencapai puncak gunung yang ada di wilayah Pakistan itu. Ia mencapai puncak nomor sembilan hanya dalam waktu 12 hari.

Dua tahun kemudian Messner kembali menciptakan sensasi. Pada 18-21 Agustus 1980, Messner sukses membuat rekor di Everest: mendaki solo dan tanpa tabung oksigen. Ia mulai mendaki sendiri dari advanced base camp di sisi utara.

Pada hari ketiga – dengan diliputi keletihan, Messner mampu berdiri di titik 8.848 meter itu. Meraih puncak seorang diri, Messner pun terduduk dan menangis. Hanya itu yang dapat dilakukannya. Saat tiba di kemah, Messner berucap terbata-bata, ”Saya tak dapat mengulanginya lagi. Saya telah mencapai batas kemampuan saya. Dan saya merasa bahagia.”

Reinhold tidak saja dikenal sekedar menjadi penakluk Mount Everest, Himalaya, semata. Namun juga, namanya diabadikan di dalam sejarah dunia sebagai pendaki pertama di dunia yang menaklukkan mount Everest tanpa Oksigen tambahan atau lebih dikenal dengan gaya Alpina. Dengan kesuksesannya tersebut dia juga mencatatkan namanya di Guinness Book of World Record sebagai Penakluk 14 Puncak gunung diatas 8000m, sukses melintasi benua Antartika dengan jalan kaki selama 92 hari via the South Pole sejauh 2.800 km. Dan tahun berikut, melintasi gurun Takla Maran, lalu ekspedisi ke Greenland sejauh 2.200 km.

“Dalam pendakian gunung, kamu tidak bisa menjadi orang lain, tetapi kamu akan menjadi dirimu sendiri” tutur Reinhold ketika ditanya tentang kesuksesannya sebagai pendaki gunung ternama. “Saya adalah orang pertama di dunia yang menaklukkan 14 puncak tertinggi di dunia, tanpa oksigen tambahan. Saya tidak pernah mempertanyakan berapa tinggi gunung yang akan saya daki, akan tetapi bagaimana saya menaklukkan gunung tersebut.”

Reinhold Messner, adalah salah satu contoh sosok manusia di dunia yang mampu merecover dirinya dari kegagalan yang pernah ia alami. Hingga akhirnya ia pun menjadi orang yang sukses dalam catatan sejarah pendakian gunung dunia. Dia tidak pernah menghakimi orang-orang yang pernah mencelanya di masa lalu. Bahkan ketika kebenaran itu terkuak 35 tahun dimana di tahun 2005 jasad Gunther adiknya ditemukan dalam keadaan seperti pengakuan Reinhold, tersapu dan tewas dibawah longsoran salju. Dia tidak banyak bicara untuk meyakinkan bahwa dia tidak berdosa, cukup waktulah yang menguak kebenaran sesungguhnya.

Kegagalan dalam kehidupan adalah hal yang biasa. Namun bagaimana kita menjadi sosok yang luar biasa dengan bangkit dan kembali sukses daripadanya.

Source : Bangkit Menuju Kesuksesan. A Setiawan

Jabaterat!

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: