Archive

Archive for December, 2011

Teh basi vs kopi

Selamat pagi sahabat,

“Kalo teh sudah basi, mungkin lebih enak kalo kita ngopi.”

Menurut neuroscientist, otak kita bekerja dengan keunikan yang mencengangkan, yaitu bahwa ia sangat terbiasa membesar-membesarkan berbagai hal yang negatif.

Bisa dimaklumi, sebab sejak lahir kita memang lebih sering mengaktivasi “mode survival” demi bertahan hidup dan lebih jarang mengaktivasi “mode damai-tenteram”.

Kita tahu bahwa fokus dan pengulangan adalah penguatan, dan penguatan adalah pembelajaran. Maka dengan kecenderungan di atas, jadilah kita pribadi-pribadi yang lebih terampil dalam mengeksekusi pola-pola berpikir negatif.

Itu sebabnya, berpikir positif saat pikiran sedang negatif kadang-kadang hampir mustahil dilakukan, terlebih lagi jika pikiran negatif itu sudah terlanjur menjelma menjadi perasaan negatif.

Pola-pola berpikir negatif yang kita biasakan itu, berkembang dari kebiasaan merespon kenyataan negatif yang sesungguhnya (kebiasaan reaktif), menjadi kebiasaan meramalkan hal-hal yang belum nyata tapi sudah kita yakini seolah-olah pasti akan terjadi (kebiasaan preventif).

Maka, tantangan terbesar untuk membangun kebiasaan berpikir positif, bukanlah kebiasaan menyuntikkan pikiran positif melainkan kebiasaan membatalkan pikiran negatif.

Mengganti isi gelas dari teh menjadi kopi bukanlah mencampurkan kopi ke dalam teh, tapi membuang dulu tehnya barulah dituangkan kopinya. Bahkan, gelasnyapun perlu dicuci bersih dulu.

Kita tak tahu, berapa banyak dan yang mana yang negatif dari 60.000 pikiran yang akan lewat di kepala kita hari ini. Namun demikian, insya Allah kita langsung mengetahuinya jika ia datang.

Saat itu, yang perlu kita lakukan adalah menekan tombol escape.

Tetap semangat!

Sumber: Disini

Advertisements
Categories: Inspirasi, Kehidupan Tags:

Defense

Dan tantangan pada setiap pilihan adalah komitmen utk menyelesaikannya.
Tentu jelas terlihat setelah ia ada pada batas pencilan #extreme.
Apakah tetap pada titik itu atau kembali bergabung bersama yang lain.
Dititik ini semua keputusan dipertaruhkan, bukan hanya saat mengambil keputusan dengan segala resiko tetapi juga sebelum keputusan itu dibuat.
Taruhannya adalah benar atau tidak benar. #extreme

Intangible Asset

Tulisan ini pas banget, pas saya sedang monev perusahaan sendiri.. Smoga semakin belajar semakin baik


Beberapa waktu yang lalu saya mendengarkan presentasi hasil audit terhadap salah satu perusahaan saya. Hasil audit eksternal itu menyatakan bahwa perusahaan saya dalam keadaan sangat sehat. Saat mendengarkan presentasi saya iseng bertanya, “Kira-kira kalau perusahaan ini saya jual berapa harganya?”

Jawaban auditor itu cukup mengejutkan saya. Ia menyebutkan harga yang nilainya kurang lebih 7 kali lipat dari aset perusahaan saya. Bahkan ia menambahkan, “Bila bapak jual dengan harga ini, saya siap cari pembeli dalam waktu yang sangat singkat.” Mengapa? “Karena perusahaan bapak sangat sehat dan prospektif,” kata auditor itu.

Sehat dan prospektif ternyata tidak hanya dilihat dari rasio-rasio keuangan yang sangat sehat tapi juga daya dukung SDM, budaya perusahaan dan reputasi. Dari sinilah saya menyadari bahwa harga sebuah intangible assets (kekayaan yang tidak terlihat) ternyata jauh lebih mahal dari pada harga tangible assets (kekayaan yang tampak). Perusahaan saya tadi contohnya, bernilai sedikitnya 7 kali lipat dari harga aset fisik yang ada.

Karena itu, pupuk dan perbanyaklah intangible assets dalam bisnis dengan membangun team work, sistem, SDM yang tangguh, reputasi, layanan kelas satu kepada pelanggan, dan membuat nilai-nilai perusahaan yang harus tertanamkan di semua lini perusahaan.

Hal tersebut berlaku juga dalam sebuah keluarga. Kekayaan keluarga Anda bukan hanya tangible assets seperti rumah serta isinya, mobil, tanah atau aset-aset lain yang anda miliki. Seharusnyalah intangible assets dalam sebuah keluarga nilainya jauh lebih besar dibandingkan dengan aset-aset yang tampak.

Kita wajib memupuk dan menguatkan intangible assets dalam keluarga. Kita wajib menanamkan nilai-nilai positif yang wajib di miliki keluarga, dari mulai keimanan, kejujuran, tanggungjawab sampai dengan kepedulian dan pentingnya berkontribusi membangun peradaban dunia yang lebih bermartabat.

Jangan sepelekan obrolan-obrolan ringan dengan anggota keluarga. Biasakan memeluk, bercanda, dan bermain, bersama dengan mereka. Bagi yang sudah menikah, sekali-kali mandi bersama atau berlomba lari dengan pasangan hidup Anda.

Keluarkan kata-kata yang romantis, rayulah pasangan hidup Anda, berilah hadiah-hadiah kejutan yang tak terduga dan godalah pasangan hidup Anda. Dengan cara ini, kekayaan keluarga Anda akan semakin melimpah ruah. Nah, seberapa besar intangible asset dalam bisnis dan keluarga Anda?

Salam SuksesMulia!

sumber : http://www.jamilazzaini.com/intangible-assets/

Categories: Uncategorized