Archive

Posts Tagged ‘Puisi’

Syukur

Semakin kau lihat keluar, semakin kau menyesali
Semakin kau buka jendela, semakin kau tidak percaya diri
Semakin kau mendongak, semakin kau mengkerdil
Semakin kau tutup rapat diri, semakin kau menyesali

Syukur adalah sebaliknya.

Berkacalah sembari terpejam, hiruplah nafas dalam-dalam, dan kau rasakan aliran semua nikmat Tuhan semesta alam.

Categories: Uncategorized Tags: , ,

Daftar – M.Natsir

Salam!

Saudaraku Hamka,
Lama, suaramu tak kudengar lagi
Lama…
Kadang-kadang,
Di tengah-tengah si pongah mortir Read more…

Selalunya begitu

Salam!

Selalunya begitu…
Tuhan tidak membiarkan ummatnya masuk dalam lembah nista

Selalunya begitu..
Manusia lupa ada Dzat yang terjaga disaat dia tidur, memperhatikannya dalam setiap aktifitas, memberinya jalan keluar bagi setiap permasalahan

Selalunya begitu..
Tuhan mematikan manusia agar Read more…

Categories: Sastra Tags: ,

Puisi HAMKA : Kepada Saudaraku M.Natsir

Salam!
Puisi ini ditulis Buya Hamka pada tanggal 13 November 1957 setelah mendengar pidato M. Natsir yang mengurai kelemahan system kehidupan buatan manusia dan dengan tegas menawarkan kepada Sidang Konstituante agar menjadikan Islam sebagai dasar Negara RI.

KEPADA SAUDARAKU M. NATSIR

Meskipun bersilang keris di leher

Berkilat pedang di hadapan matamu

Namun yang benar kau sebut juga benar

Cita Muhammad biarlah lahir

Read more…

Categories: Sastra Tags: , ,

Cinta Orang Muda

Salam!

Semangat muda adalah nyala api gunung merapi
Merah, panas, kuat dan membakar seakan tak pernah mati
Suatu saat dalam diri orang muda ada cinta kepada lawan jenisnya
Read more…

Categories: Sastra Tags: ,

Lupakan..Lupakan..Lupakan!!!

Salam!
Puisi ini ditulis saat bulan Ramadhan 1430H. Sebagai renungan instrospeksi diri terhadap egoisme diri yang mengerti tapi tidak mengamalkan pengertian. Selain itu juga instrospeksi diri terhadap kesalahan-kesalahan kecil yang dibiasakan.

Kalo sudah tau, kalo sudah faham..
lantas apalagi
Read more…

Categories: Sastra Tags: ,

Makan apa aku besok?

Salam!
Bahkan sampai hari ini pun saya aku masih terus belajar. Setiap aktifitasku selalu menyisakan pertanyaan yang aku sendiri belum mampu menjawabnya. Potensi yang aku kerahkan untuk mimpi yang selama ini aku khayalkan disetiap malam atau bahkan saat aku sedang merenung setelah sholat. Aku sadar bahkan sangat sadar bahwa diriku bukanlah makhluk yang sempurna. Secara naluriah, hati kecil ini selalu berbisik..”hey..hey untuk apa kamu katakan kalau kamu belum melakukan” — “perbaiki saja dirimu dulu, nanti kalau sudah waktunya baru kamu berbagi dengan orang lain”
Read more…

Categories: Sastra Tags: ,